Facebook Islam Dibobol Penghujat Islam

Meski niatnya berdakwah, ber-facebook harus hati-hati. Jika lengah akibatnya bias fatal. Ini menimpa group facebook Islam. Pesan yanh menghujat Islam pun masuk. Antara lain : Allahnya Islam tidak dapat melakukan kalkulasi, Muhammad mengada-ada, Al-Qur’an membenarkan begitu banyak kesalahan historis, dan lainnya. Dalam forum diskusi dan wall (dinding) group tertulis topic berjudul “Kesalahan dalam Al-Qur’an” artikel yang menghina Islam ini diposting Achille Muda As. Foto profilnya, terpasang seorang pria tak berbusana.
Analisa Tim Fakta, tulisan ini murni pikiran penganut Kristen yang membenci Islam. Gugatan terhadap Al-Qur’an ini sering ditulis dalam buku-buku karya Evangelis seperti, gugatan terhadap angka, sejarah, dan hal-hal irasional tentang Al-Qur’an. Sekilas rasional, tetapi jika diteliti, ayat yang dipersoalkan sebenarnya tak bermasalah. Berdasarkan logika sederhana, apalagi kaidah tafsir, gugatan ini tak berpengaruh, justru menunjukkan yang bermasalah, Achilles sendiri.
Ayat Al-Qur’an yang dianggap kontradiktif oleh Achilles adalah surat Al-Anbiya’ 76 dan Hud 42. Menurutnya, dalam surat Al-Anbiya 76, Tuhan menyelamatkan Nabi Nuh dan keluarganyadari banjir, sedangkan dalan surat Hud anak Nabi Nuh mati tenggelam ditelan banjir. Atas dasar ini, Achilles menggugat : “anak Nuh Diselamatkan atau Tidak?”.
Jika membaca terjemah kedua ayat diatas dengan motif untuk meragukan Al-Qur’an, sekilas bertentangan. Surat al-Anbiya menyebutkan, Allah menyelamatkan Nabi Nuh dan keluarganya. Sedangkan Surat Hud menyebutkan anak Nabi Nuh Tidak diselamatkan, tetapi ditenggelamkan. Kontraindikatifkah ayat itu? Tidak. Pasalnya, dalam al-Anbiya’ 76 tedapat kalimat fanajjainaahu wa ahlahu minal-karbil’ adhiim. Orang yang diselamatkan Allah disebut maahu wa ahlahu minal-karbil’ adhiim. orang yang diselamatkan Allah disebut waahlahu (beserta para ahli Nabi Nuh). Sedangkan pada surat Hud 42-43, nash aslinya menyebut kerabat Nabi Nuh yang ditenggelamkan dengan kata ibnahu (anak kandung Nabi Nuh).
Kata ahlun dan ibnun jelas beda. Ahlun mengacu pada hubungan keimanan, jadi “ahlinya Nabi Nuh” adalah para pengikut Nabi Nuh yang beriman. Sedangkan kata ibnun merupakan anak biologis yang memiliki hubungan darah/silsilah/keturunan. Akar kata ibnun adalah bin (anak dari). Kedua ayat itu tak bertentangan, Karena yang diselamatkan Allah adalah Nabi Nuh dan pengikutnya. Sedangkan yang tidak mau mengikuti dakwah Nabi Nuh ditenggelamkan termasuk anak kandung Nabi Nuh. Ini diperkuat dalam ayat berikutnya dengan kalimat annahu laisa min ahlika ( sesungguhnya nakmu bukan termasuk ahlimu). “Allah berfirman : “hai Nuh sesungguhnya dia (anakmu) bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik…,” (Q.s Hud 46).
Jadi, anak kandung Nabi Nuh yang ditenggelamkan itu bukan termasuk (pengikut) Nabi Nuh, tapi orang yang mendustakan ayat –ayat Allah : “maka mereka mendustakan Nuh dan orang-orang yang bersamanya dalam bahtera, dan kami menenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya),” (Q.s al-A’raf 64). Ayat ini mempertegas bahwa tidak ada kontradiksi didalamnya. Peristiwa yang dialami Nabi Nuh juga terjadi pada beberapa Nabi lain.
Contohnya, terjadi pada Luth dan pengikutnya (wa ahlahu) yang diselamatkan Allah dari azab-Nya, sedangkan istrinya terkena azab karena mendustakan ayat-ayat Allah. “kemudian kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya (wa ahlahu) kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan),” QS al-A’raf 83. Pengikut Nabi Luth dalam ayat diatas disebut wa ahlahu (ahlinya Nabi Luth). Sedangkan istrinya tidak termasuk golongan pengikut Nabi Luth. Jelas bahwa tidak ada kontradiksi riwayat Nabi Nuh dalam Al-Qur’an.
Kontradiksi tentang Nabi Nuh hanya ada dalm Alkitab (Bibel). Dalam kitab kejadian 6:3, tuhan membatasi umur manusia sampai 120 tahun. “Berfirmanlah tuhan: ‘Roh-Ku’ tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus du puluh tahun saja.” Tapi kitab Kejadian 9:29 menegaskan : “ jadi Nuh mencapai umur Sembilan ratus lima puluh tahun, lalu ia mati.”
Mana yang benar antara keduanya? Jika umur Nabi Nuh mencapai 950 tahun, berarti batasan umur manusia (120 tahun) yang ditetapkan tuhan meleset 830 tahun. Tuhan kok meleset, Bung Achilles?...

Dakwah Untuk Pemula

Dakwah untuk pemula itu bagaimana sih? Pernah saya ditanya seperti itu, sebenernya saya juga sering bertanya seperti itu. Mencari jawaban bagaimana dakwah yang baik tapi dari segi pendakwahnya atau da’i nya masih dikatakan baru terjun di dunia dakwah. Pertanyaan seperti ini sebenarnya bisa di jawab dengan mudah tetapi juga harus tepat. Oke kita coba telah satu persatu dari pertanyaan tersebut antara dakwah dan pemula, sebenernya kurang enak didengar kalau dikatakan pemula, kita ganti saja dengan orang yang baru terjun kedunia dakwah jadi lebih enak didengar. Oke.
Dakwah sendiri adalah menyampaikan kebaikan atau menyeru kepada Allah Swt. Dan perintah berdakwah sendiri tercantum di dalam Al Quran surat Al Hajj 67 :

لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكاً هُمْ نَاسِكُوهُ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ إِنَّكَ لَعَلَى هُدًى مُّسْتَقِيمٍ

yang artinya : “Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah kepada (agama) Rabbmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.” (QS 22 : 67)
Lalu pada surat An Nahl 125 :

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

yang artinya : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS 16 : 125)
Dan pada surat Al Imran 104 :

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

yang artinya : “Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (QS 3:104)
Jadi memang sudah disebutkan apa sih definisi dakwah itu, ya kira-kira sesuai dengan ayat-ayat yang telah disebutkan diatas. Intinya memang menyampaikan manusia agar mengikuti syariat dan jalan Allah Swt. Bagaimana kita mengajaknya? yang pastinya kita mengajak dengan dengan memberikan pengajaran tarbiyah dan pastinya cara yang yang baik. Sudah pasti untuk mengajak ke arah yang baik ya caranya pun harus baik. Tujuannya apa sih? ya itu tadi mengajak umat manusia kepada yang ma’ruf, amal-amal baik yang diperintahkan Allah Swt. Tujuan lainnya mencegah manusia itu dari hal yang munkar, keburukan yang disebabkan oleh tingkah laku manusia itu sendiri.
Dari definisi tentang dakwah sendiri sudah jelas bahwa sang da’i itu harus menyampaikan sesuatu. Sesuatu itu pastinya yang baik, kebaikan yang diperintahkan Allah Swt yang telah di wahyukan melalui nabi Muhammad Saw untuk manusia dan sekalian alam. Nah bagaimana seorang da’i bisa dengan percaya diri menyampaikan kepada orang lain? Pastinya dia harus belajar. Iya, belajar. Seseorang jika ingin menyampaikan sesuatu apapun itu pastinya dia harus mengetahui ilmunya. Orang ingin bisa mengendarai mobil saja harus mengetahui ilmunya. Suatu amalan pasti ada ilmunya. Begitu pula dengan dakwah. Belajar dari mana? Dari mana saja. Kalau dalam hal ilmu-ilmu Islam pastinya banyak sumbernya apalagi saat ini. Banyak majelis ilmu yang dibuka untuk umum, apalagi di masjid-masjid. Atau kita bisa secara langsung belajar melalui ustad-ustad. InsyaAllah ilmu dari mereka pasti berguna untuk kitar pribadi dan orang lain. Belajar, jangan malu-malu, serap ilmunya. Yang tak kalah penting banyak membaca. Khususnya buku Islam atau pun baca majalah surat kabar Islam untuk mengupdate berita terbaru dunia Islam. Semuanya bisa diangkat dijadikan materi dakwah kita.
Karena dakwah itu luas maka ilmu yang kita gunakan untuk berdakwah itu juga sangat luas. Jangan khawatir kehabisan ilmu untuk berdakwah, segala sesuatu yang baik sesuai dengan Al Quran dan Hadist itu insya Allah bisa berguna untuk kita sampaikan kepada orang lain. Karena itu seorang da’i diharuskan memahami pokok-pokok aqidah dan keislamannya lalu tsaqofah fikriyah atau pemahaman berpikir sebagai bekal di dalam da’wahnya.
Syeikh Mustafa Masyhur menyebutkan bahwa ada tiga tsaqofah fikriyah (pemahaman berpikir) yang harus dimiliki seorang da’i :

1. Memahami islam secara betul dan menyeluruh yang memungkinkan dia dapat melaksanakan islam dengan pelaksanakan yang benar terhadap dirinya, dan dengan itu pula dia dapat menyampaikan islam dengan baik kepada orang lain. Dia mampu melaksanakan islam dan menyampaikan secara total, murni dan orisinil.
2. Para da’i mesti mengetahui kondisi dan situasi dunia islam dahulu dan sekarang, mengenal musuh-musuh islam dan mengetahui cara dan tindak-tanduknya. Dia juga harus mengetahui peristiwa-peristiwa aktual yang mempengaruhi kondisi kaum muslimin dari dekat atau jauh. Mengetahui siapakah golongan yang bekerja di bidang da’wah islam, kecenderungan dan cara-cara mereka, bagamana bentuk kerja sama yang perlu dibuat bersama-sama dengan mereka, dan persoalan-persoalan lain yang patut diketahui oleh orang-orang yang aktif dalam gerakan islam.
3. Para da’i harus menyampaikan untuk memantapkan spesialisasi ilmu yang berkaitan dengan urusan hidup manusia seperti : ilmu kedokteran, teknik, pertanian, ekonomi, perusahaan dan lain-lainnya. Oleh akrena itu bagi seorang kader aqdah ia harus berusaha memperbaiki dan meningkatkan spesialisasi ilmu yang dimilikinya secara professional agar dia mendapat tempat dalam masyarakat dan dapat mengisi tempat-tempat kosong pada saat kita membangun dan menegakkan daulah islamiyah. Patut di sini disebutkan bahwa sebagian besar ilmu pengetahuan modern sekarang ini telah dipelopori oleh para cendekiawan muslim zaman dahulu. Karena agama islam mendorong umatnya untuk mencari ilmu dan belajar serta dapat menghubungkan ilmunya dengan al Kholik.

Maka dari itu seorang da’i itu harus selalu mau dan tidak boleh malas untuk mengupgrade ilmu. Karena dakwah yang luas itu hanya bisa dilakukan jika kita memiliki ilmu yang luas. Walaupun ilmu Allah yang sangat luas, bukan berarti kita menyerah tidak mau belajar memahami sesuatu, atau berhenti menjadi seorang juru dakwah dipertengahan jalan. Lalu bagaimana jika ada suatu hal yang kita tidak ketahui ilmunya, apakah boleh kita menyampaikannya? Kembali kepada pernyataan sebelumnya bahwa amal harus disertai ilmu, karena jika tidak disertai ilmu maka kerusakan yang terjadi bisa jadi lebih kecil dari pada manfaatnya. Harus berhati-hati menyampaikan yang kita tidak ketahui, lebih baik kita jujur mengatakan bahwa tidak tahu.
Jika kita sudah memasuki jalan dakwah ini, jalan yang dilalui para nabi, jangan pernah menyerah walaupun aral merintang. Baik faktor internal atau eksternal. Mungkin bahasan disini lebih bagaimana mempersiapkan diri dari faktor internal. Jangan karena kita merasa ilmu kita sedikit lalu membuat diri kita jadi tidak percaya diri, ujung-ujungnya malah tidak berdakwah. Jangan sampai begitu. Karena pasti ada satu ayat yang sangat melekat dihati dan pikiran kita. Pahami yang sedikit itu dengan sepenuhnya. Seperti hadist Nabi, ”Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat.” (HR. Bukhori). Satu ayat yang betul-betul diketahinya secara baik adalah amanah yang ada di pundaknya untuk disampaikan kepada orang-orang yang belum mengetahui satu ayat tersebut. Sepertinya untuk seorang muslim bisa kok memahami dari satu ayat, Al Fatihah aja yang kita selalu baca tiap hari minimal 5 kali sehari sudah ada 7 ayat. Itu sudah luar biasa. Lebih baik kita memahami yang sedikit tapi dan disampaikan kepada orang, daripada kita paham banyak ilmu tapi tidak menyampaikannya.
Jadi untuk para da’i yang baru terjun di dunia dakwah, biasanya para aktifis dakwah sekolah atau aktifis dakwah kampus, niatkanlah dakwah hanya untuk Allah semata. Biarkan yang lainnya yang kita dapat dari berdakwah itu adalah bonus dari Allah. Jangan harapkan bonusnya. Yang harusnya menjadi pengharapan para pendakwah adalah ridho Allah semata. Dakwah untuk pemula atau yang bukan, semuanya sama bertujuan menyampaikan risalah Allah. Ilmu yang kita cari, itu untuk Allah. Dan ilmu atau pelajaran yang kita berikan untuk umat manusia juga untuk Allah saja. Insya Allah dakwah akan terasa nikmat apapun yang menghadang jika kita niatkan hanya untuk Allah semata. Insya Allah saya juga bukan seorang ustad yang memiliki banyak ilmu, saya juga masih banyak belajar dan ingin berbagi. Insya Allah segala sesuatu yang kita sampaikan untuk orang lain dan yang kita sampaikan itu berguna dan orang itu menyampaikannya kepada orang yang lain lagi, akan ada balasannya dari Allah. Amin.


Sumber :
-http://quran.kawanda.net/
-http://id.wikipedia.org/wiki/Dakwah
-http://id.wikipedia.org/wiki/Amar_ma’ruf_nahi_munkar
-http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/menjaga-semangat-dakwah.htm

Laskar Mawar : Kisah para Bidadari Surga dari Palestina

Dalam tekanan penjajahan Israel, telah lama wanita Palestina menjadi pejuang yang tangguh dan tabah. Mereka adalah anak yang menyaksikan ayahnya ditawan, istri yang kehilangan suaminya tanpa jejak, ibu yang menguburkan putranya yang syahid. Akhirnya, mereka menempuh jalan perjuangan baru: meledakkan diri sebagai Laskar Mawar.

Kantor Bulan Sabit Merah di Ramallah bertempat di sebuah gedung tiga lantai bercat putih dengan genting berwarna merah, tak jauh dari pusat kota. Lantai pertama, tempat para petugas menerima panggilan darurat, dilengkapi dengan sebuah sofa dari besi dan kursi-kursi dapur yang mengelilingi sebuah meja kayu rendah yang telah kusam. Di sudut ruangan, sebuah televisi tengah menyiarkan saluran pemerintah Palestina, yang memonitor semua peristiwa di sepanjang Tepi Barat dan Jalur Gaza, dan menyiarkan berita serta laporan setiap jamnya.



Wafa Idris

Hari itu, ada lima anggota Bulan Sabit Merah yang bertugas menerima panggilan darurat, tiga leleaki dan dua perempuan, yang tampaknya sudah saling kenal dekat. Antara lain, Tared Abed, 27, Ahlam Nasser, 23, Nassam Al-Battouni, 22, Bilal Saleh, 23, dan Wafa Idris, 25 tahun. Mereka terus bercanda.

Dari semua relawan, Wafa-lah yang paling banyak bergerak. Ia bermain-main dengan tali karet besar yang elastis, dan mengayun-ayunkannya seperti ketapel ke arah teman-temannya sambil bercanda.
Wafa adalah seorang wanita muda yang berpostur tinggi dengan rambut hitam panjang, dicat dengan henna. Wajahnya yang bulat dihiasi make-up tipis sehingga matanya yang berwarna gelap dan bibirnya yang menyerupai busur panah itu semakin tampak jelas. Di kepalanya bertengger sebuah topi beludru warna hitam. Ia begitu cantik dan ramah.

Pernah beberapa wartawan Barat mengajaknya kencan, tapi sebagai muslimah ia menolak ajakan mereka.
Tiba-tiba, televisi menyiarkan gambar seorang lelaki dengan kepala dan wajah terbungkus kafayeh bermotif kota-kotak merah putih. Ia berbicara bahasa Arab, sambil menyandang senapan di salah satu tangannya dan Al-Quran di tangannya yang lain.

Walau semua temannya yang lain terus teratwa dan bercanda, wajah Wafa berubah serius.
Lelaki di televisi itu mengatakan, dirinya akan berjihad dengan meledakkan dirinya di salah satu wilayah pendudukan Israel.

Wafa terdiam di kursinya. Ia menghayati setiap patah kata sang calon syahid yang hendak bertempur. Dagunya menengang, sikapnya khidmat, tenang, dan tak bergerak. Sampai lelaki di layar kaca itu mengakhiri pernyataannya dengan mengucapkan selamat tinggal kepada penduduk Palestina, teman-temannya, dan keluarganya.

Setelah pelaku bom bunuh diri itu mengakhiri pidatonya, tiba-tiba Wafa mengangkat tangan kanannya dan melambai.

Sebulan kemudian, di pagi hari, tepatnya 27 Januari 2002, lebih dari seribu wanita Palestina berbondong-bondong datang untuk mendengarkan pidato Yasser Arafat di kampnya di Ramallah.

Dalam keadaan dijaga oleh para pengawal dan penasihat setianya yang selalu siaga, ia menegaskan bahwa kaum wanita tidak hanya diterima, tetapi juga diharapkan bisa berpartisipasi dalam perlawanan bersenjata menentang pendudukan Israel. “Kalian adalah Pasukan Mawarku, yang akan menghancurkan tank-tank Israel. Syahidah siap sepenuhnya menuju Yerusalem....”

Ia mengulang-ulangi kalimat itu, hingga para pendengar dengan tangan terkepal ke atas turut berteriak, “Syahidah... syahidah... tunggulah Yerusalem.. Akan kami berikan darah dan jiwa kami kepadamu dan Palestina....”

Lalu, sambil membentangkan kedua tangannya ke arah kerumunan wanita dan gadis-gadis muda itu, ia berkata, “Kalian adalah harapan Palestina. Kalian akan membebaskan para suami, para ayah, dan putra-putra kalian dari penindasan. Kalian akan mengorbankan diri sebagaimana kalian senantaisa mengorbankan diri bagi keluarga kalian...”

Maka, tak berapa lama, siang harinya, terdengar berita heroik itu.... Wafa, putri Palestina yang cantik itu, meledakkan dirinya hingga berkeping-keping di tengah kota Yerusalem di sebuah pusat perbelanjaan, menewaskan seorang lelaki Israel, dan melukai 131 orang yang lalu lalang.
Wafa Idris adalah wanita pertama yang meledakkan dirinya. Ia melakukan kamikaze atas nama perjuangan rakyat Palestina.

Beritanya segera menyebar. Para pengamat politik maupun pakar psikologis pun berlomba mengeluarkan pendapat. Salah satunya Adel Sadew, psikiater yang mengepalai Departemen Psikiatri, Universitas Kairo. Ia menyamakan Wafa Idris dengan Yesus Kristus.

“Mungkin kalian dilahirkan di kota yang sama, lingkungan yang sama, dan rumah yang sama. Mungkin kalian makan dari piring yang sama, atau minum dari cangkir yang sama, air yang mengalir dari nadi-nadi kota suci, dan yang menempatkan seorang anak di rahim Maryam. Mungkin Roh Kudus yang sama telah menempatkan Syahidah Wafa dan membungkus tubuh sucinya dengan dinamit. Dari rahim Maryam, lahir seorang martir yang menghapuskan penindasan, sedangkan tubuh Wafa menjadi pecahan peluru yang menghapuskan keputusasaan dan menjaga tumbuhnya harapan....”

Darine Abu Aisha

Cerita kesyahidan para syahidah tak berhenti sampai di situ. Muncul lagi syahidah-syahidah yang lain. Di antaranya Darine Abu Aisha, 20, gadis manis yang cerdas, mahasiswi Universitas An-Najah, Nablus. Ia anak bungsu dari tujuh bersaudara, dari pasangan Mohammad dan Nabila Aisha.

Suatu hari, di pos pemeriksaan dekat Nablus, ada antrean yang biasanya harus dijalani warga Palestina agar bisa lewat, dan Darine berada di antrean yang tak jauh dari bagian depan, dekat dengan teman baik dan sepupunya, Rashid.

Di sebelah mereka ada seorang perempuan yang menggendong bayi yang sedang terserang demam tinggi. Tentara penjaga tidak mengizinkan perempuan itu lewat terlebih dahulu menuju ambulans dan segera membawa bayinya ke rumah sakit terdekat.

Bayi itu hampir mati, telah membiru karena kurang udara. Walaupun mendengar permohonan dari orang-orang yang menyaksikan tragedi tersebut, tentara-tentara itu bersikeras menolak membuat perkecualian apa pun hingga semua surat selesai diperiksa. Mereka melarang perempuan itu mendahului Darine dan sepupunya.

Darine kemudian menjelaskan kepada tentara-tentara tersebut dalam bahasa Inggris bahwa ia bertindak sebagai juru bicara perempuan itu. Beberapa tentara Israel mulai berbisik dan saling tertawa. Salah seorang mendekati Darine dan berkata bahwa mereka akan mengizinkan perempuan itu lewat jika sepupu Darine, yaitu Rashid, mencium bibir Darine.

Darine adalah muslimah yang taat. Tentu ia tidak mungkin melakukan itu. Ia berusaha berunding denagn tentara itu dan menjelaskan bahwa ia adalah muslimah yang taat, yang tidak mungkin mengizinkan lelaki yang bukan suaminya menciumnya.

Tanpa peringatan, salah seorang di antara tentara itu merenggut jilbab Darine. Tentu Darine merasa terhina. Tetapi, saat itu, bayi tadi telah sangat kesulitan bernapas, dan ibunya menjerit-jerit. Maka Darine menyuruh Rashid cepat-cepat mencium bibirnya, sehingga bayi itu bisa diselamatkan. Sebagaimana yang telah dijanjikan, mereka mengizinkan perempuan itu dan bayinya menuju ambulans, yang sudah menunggu.
Merasa terhina atas sikap penjajahan Israel tersebut, Darine pun memutuskan untuk melakukan aksi syahid.
Bebepa menit sebelum dia meledakkan sabuk bom di pos pemeriksaan Maccabin dekat Yerusalem, Darine menelepon ibunya untuk meminta maaf karena telah menyelinap keluar rumah tanpa izin, dan baru mengucapkan selamat tinggal. Dalam konteks Palestina saat ini, ucapan “selamat tinggal” identik dengan perpisahan menuju jihad.

Sikap yang tampak sederhana itu, menelepon untuk meminta maaf karena telah menyelinap keluar rumah tanpa izin, begitu mengesankan. Bagi Darine, menyelinap keluar rumah tanpa izin itu lebih buruk, sehingga meminta maaf adalah hal yang lebih penting daripada memberitahukan bahwa ia akan segera berangkat ke jalan menuju surga....

Ibunya berusaha mencegahnya. “Aku mencintaimu. Aku menyayangimu. Engkau adalah jantung hatiku... jangan kau lakukan itu...”
Tetapi ketentuan Tuhan berkata lain.

Ayat Al-Akhras
Kisah lainnya yang tak kalah heroik dilakukan oleh Ayat Al-Akhras, seorang gadis remaja yang cantik. Sebelum melakukan aksi syahidah, Ayat memberikan pesan. Berbalut busana muslimah hitam, dengan kafayeh khas Palestina, ia membacakan pesannya dengan suara lembut di televisi, dua jam sebelum aksi syahidnya. Ia memulai wasiatnya dengan membaca Bismillah.

“Wahai Al-Quds… wahai Al-Quds… wahai Palestina… wahai Palestina… aku melakukan ini semata-mata untuk mencari keridhaan Allah SWT. Dan kepada para penguasa Arab, kalian telah cukup tidur. Bangunlah. Laksanakan kewajiban kalian terhadap Palestina.” Itulah sebagian kutipan pesannya.
Dengan bahasa Arab yang fasih, Ayat terus membacakan wasiatnya. Akhirnya, ia meneriakkan takbir, “Allahu Akbar!”

Tampaknya ia ingin segera mengakhiri wasiatnya dan sudah tidak sabar lagi ingin melakukan aksinya, menetukan pilihannya untuk menjadi bidadari surga. Tangannya melambai, untuk terakhir kalinya.
Ayat tumbuh di tengah kisah-kisah agresi Israel dan terusirnya bangsa Palestina dari tanah kelahirannya. Ibunya, Khdra Kattous, dan ayahnya, Mohamme Al-Akhras, lahir dan tumbuh di tenda pengungsian di Jalur Gaza. Orangtuanya tinggal di sana dari perkampungan Arab di dekat Tel Aviv pada akhir perang 1948.

Hari itu, subuh baru saja usai. Ayat Al-Akhras kembali mambaca Al-Quran. Ayat-ayat jihad dibacanya berulang-ulang dengan nada bergetar, sesekali ia berhenti menahan isak tangis.
Menjelang pukul 06.00 waktu Palestina, ia menulis sesuatu di meja belajar. Sejurus kemudian Ayat sudah berseragam dan bergegas ke dapur untuk menemui ibunya.

Kepada ibunya, ia pamit hendak pergi ke sekolah. “Ada tugas tambahan, hari ini boleh jadi merupakan saat terpenting dalam hidup ini. Saya mohon doa restu Ibu,” ucapnya dengan mata berbinar.
Ibunya tersekat, dia sedikit bingung, heran, dan kaget melihat tingkah putrinya. “Semoga Allah selalu melindungi dan merahmatimu, anakku. Tapi, bukankah Jum’at hari libur?”

“Hanya doa Ibu yang nanda harap,” jawabnya. Ayat tak lagi berkata-kata, ia hanya tersenyum, mencium tangan sang ibu, lalu memeluknya erat. Kemudian ia menarik tangan adiknya, Sama’ah, 10. Mereka pun sama-sama bergegas pergi ke sekolah.

Beberapa jam kemudian, pukul 10.00 waktu setempat, Radio Israel memberitakan ledakan bom di Supermarket Nataynya, dekat Yerusalem. Peristiwa ini menyebabkan tiga orang tewas dan lebih dari 40 orang luka-luka. Jantung ibunda Al-Akhras berdegup kencang menyimak kabar itu. “Jangan-jangan dia…,” bisiknya saat itu.

Firasatnya menguat manakala dia mendapatkan Samaah pulang sendirian sambil terisak-isak. Dia tak tahu persis ke mana sang kakak pergi. Ayat, kata dia hanya berpesan, “Jangan cemas dan takut, Allah selalu bersama orang-orang beriman, sampaikan salam buat semuanya, dan berdoalah, mudah-mudahan Allah memberi pengampunan dan kemenangan!”

Di kamp pengungsian, ibunda Al-Akhras cemas dengan nasib anaknya. Bathinnya bertanya-tanya, “Ke mana dia pergi? Apakah dia sudah mewujudkan impiannya menjadi syahidah?”

Pertanyaan lain bermunculan di benaknya. “Bagiamana dengan impiannya yang lain? Soal pinangan, rencana pernikahan, gaun pengantin yang sudah dijahitnya sendiri? Bukankah dia juga bercita-cita untuk melahirkan anak-anak, kemudian membina mereka menjadi mujahid-mijahid tangguh?”

Sementara pikiran bertanya tanya, qalbunya mendapat isyarat bahwa calon mempelai itu telah syahid dalam aksi bom.

“Innalillahi wainna ilaihi raji’un. Semoga Allah SWT mencatatnya sebagai syahidah. Mudah-mudahan dia juga bisa menjadi pengantin Palestina yang bisa melahirkan kehormatan dan kemerdekaan bagi umat dan bangsanya,” demikian ucapan sang ibu ketika mendapat kepastian beritanya.

Sebelumnya, Issa Farah dan Saa’id, dua sahabat Al-Akhras, gugur diterjang peluru helikopter Israel.
Ayat Al-Akhras, yang lahir 20 Februari 1985 di Kamp Dheishes, tercatat sebagai siswa kelas tiga sekolah menengah atas. Ia, menurut ABC News, termasuk anak yang rajin belajar dan cerdas. Sampai saat-saat menjelang syahidnya, ia masih rajin menasihati teman-temannya untuk terus belajar dan belajar.

“Penguasaan ilmu dan teknologi amat penting, dan diperlukan untuk mendukung perjuangan kita, apa pun bentuknya.”

Hayfaa, teman baiknya, berujar, “Dia selalu menasihati kami bahwa belajar harus tetap berjalan meski bahaya dan rintangan mengancam di sekeliling kita.”

Tentang jihad, Ayat berkata, ”Jihad itu kewajiban setiap muslim, termasuk wanita. Mengapa kita harus membiarkan nyawa kita terenggut sia-sia oleh kebiadaban Zionis Israel?” Kematian seorang mujahid, kata dia, akan membangkitkan keberanian mujahid-mujahid lainnya, bukan sebaliknya.

Meski tahu bahwa syahidah adalah cita-cita tertinggi anaknya, ibunda Al-Akhras tetap saja merasa kehilangan. Dengan air mata berlinang, dia mengulang kata-kata sang anak ketika berdiskusi soal kewajiban jihad bagi setiap muslim warga Palestina.

“Apa nikmatnya hidup di dunia ketika kematian selalu mengintai kita? Mana yang lebih indah, mati dalam ketidakberdayaan dan kehinaan, atau gugur di medan jihad?”

Sama’ah, adik sepupu sekaligus teman terdekat Ayat, merasakan hal yang sama. Sambil menangis dia berkisah tentang saat-saat terakhir bertemu dengannya. “Saya lihat cahaya di mukanya dan rona kebahagiaan tak pernah dilihat sebelumnya.”

Saat itu, kata Sama’ah, sambil memberi sepotong cokelat manis Ayat berkata lirih, “Shalat dan doakan agar Kakak sukses melaksanakan tugas suci ini.” “Tugas apa?” Sama’ah bertanya.

“Hari ini kamu akan mendengar berita baik. Mungkin inilah hari terbaik dalam hidupku. Inilah hari yang lama aku nantikan. Tolong sampaikan salam hormatku pada Akh Shaadi,” tutur Ayat sambil memberikan secarik kertas.

Shaadi Abu Laan, 20, calon suami Ayat, termangu beberapa saat ketika kabar itu sampai kepadanya. Dia nyaris tak percaya Ayat pergi begitu cepat mendahuluinya. “Juli ini,” kata Shaadi, “kami sudah berencana untuk resmi berumah tangga, begitu Ayat lulus ujian. Kami akan menempati rumah sederhana yang belum didekor.”

Mereka sudah satu setengah tahun ber-khitbah (saling meminang). Keduanya bahkan telah menyiapkan nama “Adiyy” untuk bayi pertamanya. “Allah ternyata punya rencana lain,” ucap Shaadi. “Semoga kami bisa berjumpa di surga kelak, dia mencintai agamanya lebih dari apa pun.”Ya, Ayat Al-Akhras lebih memilih menjadi bidadari di surga. Semoga Allah SWT mengabulkannya.

Ustadz Hasan Saifouridzal: Berdakwah di Negeri Singa





Saifouridzal lahir di tengah-tengah keluarga yang sederhana. Sejak kecil, putra pasangan Haji Rahamat bin Abdullah dan Hajah Norimah binti Mohd Shariff ini sering dibawa ke majelis-majelis yang penuh kebaikan oleh ayahnya. Di antaranya, pada majelis dzikir Thariqah Qadiriyah wan Naqsyabandiyah, yang pada saat itu dipimpin oleh K.H. Hassan Asy'ari bin Musthafa Bakri, setiap hari Ahad malam Senin, di Masjid Alkaff, dan hari Kamis malam Jum’at, di majelis ta'lim di kediaman K.H. Hassan Asy’ari sendiri, serta banyak lagi majelis yang telah ia kunjungi di masa kecilnya.

Minatnya untuk mendalami agama secara khusus sudah tumbuh sejak kecil. Ketika tengah duduk di bangku sekolah pemerintah (sekolah negeri) tingkat SD, ia masuk pada salah satu madrasah di Singapura, Madrasah Wak Tanjong Al-Islamiah (MWTI), tahun 1989, di bawah asuhan Ustadz Haji Mohd Noor bin Taib, yang dijalaninya selama lima tahun.

Sangat Cinta Ilmu

Ustadz Hasan memang sosok pemuda yang sangat cinta ilmu. Tidak mengherankan, saat ditanya kenangan apa yang paling berkesan di masa kecilnya, baginya kenangan saat permohonanannya untuk masuk madrasah yang sejak lama diidamkannya diterima oleh pihak madrasah adalah yang paling berkesan dalam kehidupannya.

Pengalaman itu memang menjadi langkah kaki pertama baginya yang sangat menentukan perjalanan hidupnya kemudian dalam menapaki jenjang pendidikan ilmu-ilmu agama selanjutnya.

Karena belum memiliki dasar pengetahuan yang memadai, pada saat diterima di MWTI ia diharuskan untuk memulai pelajaran dari tingkat dasar. Ia diperintahkan untuk menghafal surah-surah pendek (Juz 'Amma) dan bertutur bahasa Arab.

Ia pun terkenang dengan seseorang yang selalu memberinya motivasi, terutama pada saat ia tidak dapat memahami atau menghafal surah, atau tidak dapat berkomunikasi dengan bahasa Arab secara benar, yaitu mudir madrasah MWTI, Ustadz Haji Mohd Noor bin Taib.

Di mata Ustadz Hasan, Ustadz Haji Mohd Noor bin Taib adalah sosok seorang guru yang amat tegas dan dedikasinya sangat tinggi. Sikap sang guru, yang sering memarahi dan menghukum setiap murid karena tugas yang diberikan tidak diselesaikan, ia anggap sebagai sebuah dorongan. Hal itu bukanlah untuk menakut-nakuti murid-muridnya, melainkan merupakan cara agar para muridnya mempunyai adab dalam menuntut ilmu maupun pada saat berhadapan dengan guru.

Berbagai kesan yang ia dapat dari sang guru inilah yang mendorong dirinya melanjutkan pendidikan ke sebuah pondok pesantren lainnya untuk memperbaiki kelemahan dan menambah kekurangan yang ada pada dirinya. Ia pun menemui Ustadz Haji Mohd Noor bin Taib untuk keperluan itu dan kemudian mendapat restu darinya.

Sang guru berpesan, “Tatkala menimba ilmu kelak, timbalah ilmu dengan penuh rasa ikhlas, dan jangan pernah bangga dengan ilmu yang didapat. Bila nanti telah selesai menjalani pendidikan di pondok pesantren, janganlah lupa akan semua guru yang telah mendidiknya; dan bila telah kembali ke tanah air, kenanglah madrasah yang pernah berjasa.”

Pesan Ustadz Haji Mohd Noor bin Taib itu tidak pernah dilupakannya. Hingga sekarang, ia selalu menyempatkan diri mengunjungi madrasahnya itu.

Setelah menyelesaikan pendidikan hingga kelas 6 di MWTI, ia semakin bergairah untuk menuntut ilmu.

Terbersit keinginan di dalam hatinya untuk dapat menimba ilmu di luar tanah kelahirannya. Maka orangtuanya kemudian mengemukakan hal itu kepada K.H. Hasan Asy'ari. Ulama inilah yang kemudian mengatur segala sesuatunya hingga ia dapat mencapai keinginannya itu dengan mondok di Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo, Jawa Timur, pada tahun 1993.

Sewaktu ia tiba di Pondok Pesantren Zainul Hasan, pengasuh pesantren, yaitu K.H. Hasan Mutawakkil Alallah, putra K.H. Hasan Saifouridzal, menambah namanya, yang semula hanya bernama Hasan menjadi Hasan Saifouridzal, sebagai tabarrukan kepada K.H. Hasan Saifouridzal dan Pondok Pesantren Zainul Hasan.

Menimba ilmu di Pondok Pesantren Zainul Hasan merupakan salah satu episode kehidupannya yang tak terlupakan. Pada saat itu ia mulai dapat belajar mandiri, tanpa didampingi orangtua dan keluarga. Pengalamannya ini menjadi bekal yang berharga bagi kelanjutan pendidikannya kelak.

Di pesantren tersebut, ia belajar dan mengkaji kitab kuning dengan menggunakan bahasa Jawa. Pengalaman yang sangat berkesan baginya. Bahkan, metode yang digunakan di Pesantren Zainul Hasan berikut penggunaan bahasa Jawa yang dipakai saat mengkaji kitab dalam hal-hal tertentu hingga sekarang masih ia praktekkan di majelis-majelisnya.


Indahnya Perbedaan

Setelah ia menyelesaikan pelajaran di Pesantren Zainul Hasan, orangtuanya datang ke pesantren dan memohon pamit untuk membawa pulang dirinya ke tanah airnya, Singapura. Saat itu, Kiai Mutawakkil, pengasuh pesantren, menasihatinya agar melanjutkan pelajaran ke Hadhramaut. Ia pun meminta bantuan petunjuk dengan beristikharah kepada Allah SWT.

Pada saat lainnya, orangtuanya berjumpa dengan Syaikh Mahmood bin Hasan Al-Khatib, salah seorang anggota keluarga seorang ulama besar Singapura, Al-Marhum Al-'Allamah Syaikh Omar bin Abdullah Al-Khatib, dan membicarakan keinginan putranya untuk melanjutkan pendidikan ke Hadhramaut.

Usai bertemu orangtua Ustadz Hasan, Syaikh Mahmood menyampaikan hal itu kepada Habib Abdul Kader bin Ali bin Esa Al-Haddad.

Gayung bersambut, ia akhirnya mendapat beasiswa dari persatuan komunitas Arab di Singapura, Al-Wehdah. Bahkan kemudian Habib Abdul Kader Al-Haddad yang mengurus segala keperluan dirinya hingga ia dapat sampai ke Darul Musthafa, Hadhramaut.

Setibanya di Hadhramaut, ia belajar untuk lebih mandiri, karena suasananya jauh berbeda dari pesantren. Termasuk para guru yang membimbingnya di sana. “Jika di pesantren, kita lebih mengenali para kiai. Di Hadhramaut, kita menimba ilmu dari para sadatuna Alawiyyin dzurriyatur Rasul SAW,” katanya.

Karena itu, selama di sana ia banyak menyempatkan diri untuk berziarah ke maqam habaib, yang biasanya ia ziarahi setiap Jum’at pagi, bersama para santri Darul Musthafa lainnya, di bawah pimpinan Habib Ali Masyhur bin Muhammad Bin Hafidz, kakak Habib Umar.

Di sana, ia memiliki pengalaman berjumpa dengan orang-orang dari berbagai suku bangsa. Keindahan perbedaan itu sangat terasa baginya. Walau berbeda, sesungguhnya mereka menuju arah satu tujuan, yaitu mendalami ilmu-ilmu agama.

Di sana pula ia baru mengetahui bahwa bahasa Arab mempunyai dialek yang berbeda-beda, yang semuanya penting untuk dipelajari, agar seseorang dapat berkomunikasi dengan bahasa Arab secara tepat.

Cuacanya pun sangat berbeda. Hadhramaut adalah negeri padang pasir, yang memiliki perubahan musim dengan waktu enam bulan musim dingin dan enam bulan musim panas.

Maka demikianlah, hari demi hari ia jalani sebagai salah seorang santri Darul Musthafa, di bawah bimbingan langsung sang murabbi (pendidik), Habib Umar bin Muhammad Bin Hafidz. Begitu banyak kesan mendalam yang ia dapati di Pesantren Darul Musthafa, yang penuh barakah, terutama kalam-kalam Habib Umar, yang hingga sekarang masih segar dalam ingatannya.

Pintu Hati yang Terketuk
Ia juga mengenang sistem pembelajaran di Darul Musthafa yang sangat berkesan baginya. Kesan itu begitu kuat ia rasakan, di antaranya disebabkan sosok Habib Umar Bin Hafidz, yang, dalam menyampaikan ilmu ataupun nasihat, selalu penuh semangat.

Di matanya, setiap kali Habib Umar berbicara, seperti ada tenaga luar biasa yang keluar dari diri sang guru. Apalagi saat Habib Umar berdoa, “Setiap pintu hati kita seperti diketuk, dan mengalirlah air mata tanpa kita sadari,” kenangnya terhadap sosok sang guru. Pendek kata, ujung rambut hingga ujung kaki Habib Umar, di mata Ustadz Hasan, penuh dengan hikmah, yang bersumber dari sunnatullah dan sunnaturrasul.

Suatu ketika sewaktu ia sedang berada di rumah sang guru, tiba-tiba aliran listrik terputus dan lampu-lampu di rumah itu pun padam. Padahal, pada saat itu Habib Umar sedang membaca sebuah kitab. Timbul inisiatif dari dirinya untuk membuka jendela agar cahaya lampu dari Darul Musthafa, yang letaknya bersebelahan dengan kediaman Habib Umar, dapat masuk ke rumah Habib Umar.

Baru saja ia membukanya, Habib Umar menyuruhnya untuk menutupnya kembali, seraya mengatakan bahwa cahaya yang masuk ke rumahnya adalah cahaya lampu yang diwakafkan ke Darul Musthafa, jadi bukan cahaya yang diperuntukkan buat menerangi rumahnya. Dari kejadian ini ia kembali mendapat pelajaran yang begitu berharga, yang menunjukkan kewibawaan guru yang mulia itu. Sosok Habib Umar memang sangat membekas kuat di hatinya.

Menurutnya, setiap kalam yang diucapkan Habib Umar tidak terlepas dari ruh kalam para salafush shalih, seperti kalam Al-Imam Al-Haddad atau Al-Imam Al-Ghazali. Di antara perkataan Habib Umar yang selalu ia ingat adalah, “Sebarkan dakwah dengan hati yang tulus dan ikhlas, dan jangan sekali-kali riya’ dalam berdakwah. Jangan mencari kebenaran, pangkat, dan pujian dari makhluk, tetapi carilah kebenaran, pangkat, dan pujian dari Yang Maha Pencipta, Allah Azza wa Jalla.” Kalam gurunya inilah yang tampaknya menjadi semangat untuk berdakwah di Singapura dan menyebarkan panji-panji syari’at Rasulullah SAW.

Mewujudkan Cita-cita

Sepulangnya dari Tarim, Hadhramaut, ke tanah airnya di Singapura, ia langsung terjun di dunia dakwah. Karena memang sudah menjadi cita-cita yang terpatri dalam dirinya bahwasanya suatu saat kelak ia dapat menyebarkan dakwah Islamiyah dan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah ke seluruh pelosok Singapura, tanah kelahirannya.

Menuntut ilmu di Pesantren Zainul Hasan, Genggong, Probolinggo, maupun di Pesantren Darul Musthafa Hadhramaut, benar-benar merupakan bekal penting dalam kehidupannya. Dalam rentang waktu yang tidak singkat, ia harus berjauhan dengan keluarga yang amat dicintainya. Namun demikian, sepenuhnya ia menyadari bahwa itu semua adalah demi kebaikan dirinya.

Tekadnya yang kuat dalam menuntut ilmu didasari pandangan dirinya bahwa setiap penuntut ilmu haruslah ikhlas, harus sering taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah), dan harus sering menjalin hubungan dengan gurunya, sebagai pembimbing ruhani dirinya.

Di antara kegiatan dakwahnya saat ini adalah mengajar di beberapa masjid di Singapura, seperti di Masjid Al-Muttaqin, Masjid Abdul Razak, Masjid Al-Ansar, Masjid Mydin Riyadus Salihin, di sebuah surau pada sebuah kampung Melayu, di majelis rauhah di kediaman Habib Abdul Kader bin Ali bin Esa Al-Haddad, seorang tokoh habaib di Singapura, dan di kediamannya sendiri. Majelis rauhah di kediaman Habib Abdul Kader adalah majelis yang telah berjalan lebih dari 20 tahun dan saat ini berada di bawah pimpinan Mufti Negara Singapura, Habib Esa bin Mohd Bin Smith.

Ia juga mengisi waktunya dengan aktif bergerak di sebuah lembaga travel haji, yaitu di TM Fouzy Travel & Tours Ptd Ltd sebagai mutawif haji (pembimbing haji). Lembaga travel tersebut milik Ustadz Tengku Mohd Fouzy, salah seorang ulama senior yang disegani masyarakat Singapura. Karena kedekatannya dengan Ustadz Tengku Mohd Fouzy, jika Ustadz Tengku Mohd Fouzy sedang berhalangan hadir, Ustadz Hasan diminta untuk menggantikannya di setiap majelis pengajian yang ia pimpin.

Baginya, setiap orang yang bersungguh-sungguh terjun di dunia dakwah pasti mendapat rintangan. Banyak pengalaman yang telah ia dapat, berbagai rintangan dan cobaan selama ia menjalani aktivitas dakwah di jalan Allah. Mengenai hal ini, dengan merendah ia mengatakan, “Oleh yang demikian, tidak dapat saya menyatakan suka dan dukanya berdakwah. Hanya Allah SWT yang mengetahuinya.”

Muhammad, atau Fatimah
Semua yang telah diraihnya saat ini tak terlepas dari keberkahan doa dan usaha kedua orangtuanya. Sekalipun sang ayah hanya berprofesi sebagai seorang tukang pangkas rambut dan ibunya seorang ibu rumah tangga, dengan keberkahan rizqi yang halal akhirnya ia pun dapat terus melanjutkan pendidikan formalnya, bahkan hingga ke perguruan tinggi. Alhamdulillah, saat ini kedua orangtuanya masih dalam kondisi sehat walafiat.

Akhir 2006, Ustadz Hasan menikah dengan seorang wanita shalihah, Suryati binti Abdul Rahim. Ia sungguh beruntung beroleh istri yang shalihah ini, yang selalu memberinya semangat dalam berdakwah. Saat ini ia tengah menanti kehadiran buah hatinya, yang akan menjadi cahaya mata yang pertama di dalam rumah tangganya.

Berdasarkan perhitungan medis, anak pertamanya ini insya Allah akan lahir pada bulan Oktober 2009. Sekalipun belum terlahir, rupanya keberuntungan sudah berada pada buah hatinya itu. Jauh-jauh hari ia telah mendapat nama dari Habib Umar Bin Hafidz.

Suatu saat, setelah selesai sebuah acara di Masjid An-Nahdhah, Singapura, Habib Umar pulang ke kediaman Habib Abdul Kader, dan ia pun mendampinginya. Saat itu ia memohon barakah doa Haib Umar agar kehamilan istrinya dilindungi Allah, sekaligus memohon kiranya Habib Umar memberikan nama pada bayi tersebut kelak.

Dengan suaranya yang lembut dan senyumannya yang khas, Habib Umar mengatakan, kalau nanti terlahir putra, hendaknya dinamakan Muhammad, dan kalau putri, hendaknya dinamakan Fatimah.

Komunikasi Dakwah

Berdakwah secara lisan akan banyak menggunakan berbicara sebagai bentuk komunikasinya. Komunikasi bentuk ini relatif lebih disukai karena bersifat spontan. Namun bisa berakibat fatal jika berbicara dilakukan tanpa berpikir terlebih dahulu.
Kelebihan Teknik Berbicara dalam berdakwah, antara lain :
a. Tidak merepotkan
b. Hanya memerlukan waktu yang lebih sedikit
c. Tidak memerlukan bentuk (komposisi) baku
d. Tidak perlu menulis
e. Tidak perlu mengirimkan pesan
Kelemahan Teknik Berbicara, atara lain :
a. Kualitas komunikasi tergantung pada kemampuan da’i untuk mengucapkan kata yang tepat dalam mengungkapkan pikirannya
b. Jika orang lain sedang berbicara dan tidak diberi perhatian, maka kemungkinan besar poin penting akan hilang
c. Audiens (mad’u) seringkali menilai isi pembicaraan berdasarkan penampilan fisik tanpa mendengar dulu apa yang disampaikan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kelancaran berbicara saat berdakwah :
1. Pengetahuan; Dengan pengetahuan yang luas, seorang da’I dapat berbicara dengan lebih lancar dan panjang lebar
2. Intelegensia; Dengan intelegensia yang tingi, seorang da’I akan mampu membuat relevansi antara fenomena dengan lebih cepat dan lebih akurat
3. Kepribadian; Da’I yang berkepribadian selalu percaya diri memungkinkan untuk lebih leluasa berbicara di hadapan orang banyak serta mengemukakan gagasan-gagasan yang mungkin tidak sepaham dengan pendapat mad’u
4. Pengalaman; Seseorang yang sering melakukan ittisholat (kontak) dan melakukan pembicaraan akan menciptakan pengalaman. Pengalaman tersebut yang akan menyebabkan seorang da’I terbiasa dalam menghadapi segala sesuatu pada saat berbicara/berdakwah.
5. Biologis; Berfungsinya alat-alat berbicara yang dimiliki seseorang secara baik akan mempengaruhi kualitas pembicaraan. Seseorang yang berbicara gagap  akan menyebabkan malu dan tidak percaya diri.
Persiapan Berdakwah dengan Lisan :
1. Tetapkan Tujuan; secara umum tujuan pembicaraan ada dua, yaitu : memberikan informasi atau untuk mempengaruhi
2. Menganalisis mad’u / yang akan diajak berbicara; pahami sebanyak mungkin informasi mad’u kita
3. Menyusun kerangka pembicaraan yang akan didakwahkan
4. Mengorganisasikan pembicaraan; jangan sampai pembicaraan berkesan “acak-acakan”, tidak jelas mana awal dan akhir.
Beberapa Tips dalam Berdakwah secara Lisan :
1. Kuasai Materi yang akan didakwahkan
2. Kenali Mad’u kita
3. Pahami alur berpikir mad’u
4. Gunakan bahasa dan cara berkomunikasi yang nyaman dan efektif
5. Posisikan lawan bicara (mad’u) bukan sebagai musuh
6. Hindari nuansa menggurui. Bisa menggunakan cara bertanya
7. Tuntaskan pembicaraan, jangan sampai muncul kebingungan.

Dakwah Online

Dakwah secara online merupakan salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk tetap menegakkan agama Allah SWT dan untuk tetap beramar ma’ruf nahi munkar. Serta untuk mengamalkan ilmu yang kita miliki.
ERA GLOBALISASI telah memasuki kehidupan manusia. Arus informasi dan teknologi melanda deras tak terkendali serta menggantikan otak dan pekerjaan manusia. Kini, orang-orang semakin sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Mulai dari urusan kantor sampai urusan rumah tangga dan urusan-urusan yang lainnya. Dan hal itu telah cukup banyak menyita waktu mereka. Sehingga mereka tidak sempat lagi untuk menghadiri pengajian dan untuk sekedar duduk mendengarkan tausyiah penyejuk rohani. Mereka lebih senang berhadapan dengan layar komputer atau berkutat dengan handphone mereka. Entah untuk mencari informasi-informasi baru atau hanya sekedar bermain-main dan menjelajahi dunia cyber. Dan karena alasan itulah, kini muncul beberapa blog atau situs yang menyajikan tausyiah-tausyiah agama Islam.
Dan ternyata system dakwah secara online itu cukup diminati oleh sebagian besar umat Muslim yang juga berprofesi sebagai eksekutif atau pekerja kantoran. Kebanyakan mereka tak punya banyak waktu untuk datang dan mendengarkan ceramah secara langsung. Oleh karena itu mereka menggunakan jasa internet dan lebih memilih mendengarkan ceramah atau bimbingan tausyiah dari handphone. Dan alasan itulah yang telah mendorong segenap lembaga keagamaan untuk menciptakan situs-situs yang berisi tausyiah serta materi-materi yang ada dalam Al-Qur’an.
Hal itu juga lebih simple, mudah, diminati banyak orang serta bisa dilakukan kapan pun dan dimana pun. Itulah beberapa alasan dilahirkannya beberapa situs atau blog yang menyajikan dakwah secara online.
Di mana ada Islam di situ pula ada dakwah, dan berlaku pula sebaliknya. Dengan perkembangan teknologi sekarang dakwah telah melebarkan sayapnya, yaitu dengan dakwah dengan teknologi informasi (dakwah online). Dengan dakwah online diharapkan kejayaan Islam dan tegaknya kalimah Alloh di muka bumi segera terwujud. Dakwah secara online adalah salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk tetap menegakkan agama Allah SWT dan untuk tetap beramar ma’ruf nahi munkar. Serta untuk mengamalkan ilmu yang kita miliki.
Kita ambil contoh di sini, dakwah online dengan memanfaatkan situs internet. Kita bisa membuat sebuah situs atau blog dan mengisinya dengan materi-materi agama Islam. Karena system dakwah secara online tidak hanya dilakukan oleh da’i-da’i besar atau penceramah-penceramah kondang. Setiap orang bisa saja berdakwah secara online di internet. Dan mengajarkan ilmu-ilmu berfmanfaat yang mereka miliki. Kita juga bisa berdakwah secara online.
Kalau membuat member itu cukup sulit, kita tetap bisa menyerukan agama Allah SWT dengan ikut menjadi member sebuah situs dakwah yang ada. Dan ikut menyerukan agama Allah SWT di dalamnya. Jadi, kita tetap bisa berdakwah dan berbagi ilmu agama Islam kepada siapa pun dimana pun dan kapan pun kita berada. Insya Allah manfaat dan barokah..
   
Quote this article in website
Favoured
Print
Send to friend
Related articles
Save this to del.icio.us

Alhamdulillah..

Alhamdulillah..
Blog ini telah selesai dibuat...
blog ini saya dibuat karna  'memang' harus dibuat untuk tugas akhir semester mata kuliah  aplikasi komputer, dan blog ini dibuat bukan saja hanya untuk tugas akhir semester tapi semoga bermanfaat bagi yang membacanya...


wassalamu'alaikum wr wb..